Antara
Kenyataan dan Mimpi indah.
Didepan
aku ada sepasang kekasih yang sedang bercanda girang. Mereka sama sekali tak memperhatikanku
yang sedang termenung memperhatikan mereka. Aku berusaha memalingkan wajahku
ketika lelakinya menengok ke arahku. Pikiran ku langsung kacau mengingatmu.
Rasanya aku ingin berhenti menulis surat ini. Tapi aku sudah berjanji untuk
menulis surat untukmu. Kamu tau kan apa yang selalu aku beli jika aku
berkunjung ke comebuy. Ya itu. Minumanku sebentar lagi habis, padahal aku tak
meminumnya. Lalu mataku tiba tiba menumpahkan air mata. Semua itu tak
terbendung olehku. Apakah minumanku pindah ke mataku dan lalu tumpah di meja
cokelat dari kayu? Aku tak tau, yang pasti air mataku jatuh.
Sepasang
kekasih tadi sudah pergi dari hadapanku. Kini tinggal aku, laptopku, minumanku
yang hanya tinggal plastiknya saja, dan beberapa air mata. Aku kembali memikirkanmu.
Memikirkan hubungan ini. Rasanya tak ada yang harus diperbaiki. Disana kamu tak
butuh aku. Sudah ada banyak teman mu disana. Disini aku butuh seseorang. Aku
butuh seseorang sepertimu. Aku butuh kamu.
Entah apa
lagi yang aku pikirkan, aku ingin pergi dari mu. Aku tak ingin kembali padamu.
Aku ingin semua ini sampai disini. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Aku tak
ingin memikirkanmu lagi. Aku tak ingin berbicara dan bahkan mendengar suaramu
lagi. Aku tak ingin apapun yang berhubungan denganmu. Aku takut. Semua ini ku
kira hanya mimpi. Tetapi ternyata ini kenyataan. Kenyataannya? Kamu tak
membutuhkan ku lagi. Kenyataannya bahwa disini aku masih membutuhkanmu.
Kenyataannya? aku tak berarti apa apa untukmu. Kenyataannya lagi perasaan mu
sudah tak sama untukku. Aku benci seperti ini. Lebih baik pergi saja dari pada
tersiksa sendiri. Melihatmu tertawa rasanya saja campur aduk antara senang
karena aku tau kamu sudah tak sedih lagi. Sedih karena tawamu bukan karna ku
lagi.
Saat ini
aku berada di atas bukit. Dimana disamping kananku adalah bunga bunga yang baru
berkembang menjadi utuh dan warna warni dan disamping kiriku adalah jurang
terjal, gelap dan gulita serta seram tanpa cahaya. Kenyataannya adalah satu
kakiku sudah berada di atas jurang dan jika aku bergerak sedikit saja, aku
jatuh. Berhubung aku panik dan aku tak mungkin pergi ke bukit berbunga. Aku
terjun. Sampai dasar jurang itu ada trampolin. Didalam jurang itu ternyata ada
goa. Aku masuk kedalam dan terus menyusuri gua itu tanpa cahaya. Berbekal tangan
untuk meraba dan kaki untuk berjalan ku temukan sumber cahaya di ujung lorong
goa itu. Aku langsung berlari kea rah cahaya itu dan tebak. Ada dunia dengan
matahari yang setengah tenggelam atau biasa disebut senja. Warna kemerah
merahannya membuat hatiku damai. Pantulan cahaya ke air laut membuat air laut
berkilauan dan menyilaukan mataku. Tetapi coba tebak. Air laut itu ternyata
bukan air laut. Tetapi berlian yang terkumpul sangat banyak. Siapa gerangan
yang menaruh berlian sebanyak ini di sini sehingga air laut menjadi surut dan
hanya tersisa berlian. Saat ini tepatnya aku berada di pantai yang entah dimana
dan didunia mana. Akankah ini dunia khayalan yang selalu diceritakan oleh
seorang ibu kepada anaknya sebelum tidur. Atau memang ini adalah dunia sebenarnya,
atau dunia ini hanya dunia yang berada di ujung lorong goa didasar jurang.
Matahari
senja ini tak pernah turun sedikitpun. Cahayanya tak pudar sedikitpun. Aku
cinta keadaan seperti ini. Seketika aku teringat padamu lagi. aku benci ini.
Aku berandai, andai saja aku bisa mengajakmu ke sini pasti kamu akan sangat
bahagia, atau bahkan kebalikannya? Kamu akan sangat membencinya. Hidupku yang
muram menjadi kemerah merahan karena matahari senja ini. Aku menjadi damai.
Aku
gerah, kubuka bajuku dan ku rendam kepalaku di air laut. Oiya tadi lupa ku
sebutkan, bahwa air laut ternyata masih tersisa. Kira kira sebesar ukuran bak
mandi untuk satu orang. Hebat sekali orang yang menyediakan air disini. Air nya
tak berkurang meski aku berendam disana. Airnya ternyata bisa diminum juga. Aku
jadi penasaran sebenarnya siapa yang menciptakan dunia sedamai ini.
Di dunia
ini aku menikah dengan seekor elang. Awalnya aku tak tau itu sebuah sangkar
dari elang betina yang kesepian. Ku tidur disitu dan tiba tiba elang memeluk
ku. Aku mulai melihat kearah mata elang tersebut. Matanya penuh dengan masa
lalu yang menyedihkan. Hutan tempat ia tinggal terbakar karna ulah manusia.
Nasibnya sama sepertiku, ia menjatuhkan diri ke jurang dan menemui goa yang
ujungnya cahaya. Tubuhku mulai ditumbuhi bulu bulu. Tangan ku mulai berubah
menjadi sayap. Mulutku mulai meruncing dan mataku menjadi lebih tajam. Aku
beranak pinak banyak sekali. anak anak ku berbentuk elang dengan otak manusia.
Menghadirkan spesies dimana elang dengan kecerdasan dan akal yang sangat
berguna. Tanpa ku sadari matahari masih merah dan sama sekali tak jatuh turun
lalu tenggelam. Matahari masih ditempat semula dan memberikan kedamaian bagi ku
dan keluargaku. Aku sudah menjadi elang seutuhnya. Dengan insting memangsaku
yang digabungkan dengan akal pikiran manusia ku untuk memburu buruan. Aku tak
pernah kelaparan. Hebatnya lagi, waktu disini mungkin saja tidak berjalan. Tak
terasa sudah bertahun tahun ku tinggal disini. Aku tak peduli pada dunia
manusia. Manusia itu kejam. Mereka selalu meninggalkan semua yang tidak
dibutuhkannya. Termasuk aku. Aku teringat padamu. Bagaimana keadaanmu? Apakah
kamu sudah menjadi dokter yang kamu impikan itu? Ah untuk apa ku pikirkan ini,
tak penting bagiku dan kamu pun tak akan peduli. Lagipula aku tak tau jalan
keluar dari sini.
Aku
terbang mengelilingi dunia ini. Namun tiba tiba sayapku patah, entah apa yang
menyebabkannya lalu aku terjatuh. Aku terbangun diatas meja cokelat dengan
laptop didepanku. Gelap, tak ada orang sedikitpun. Tempat ku beli minuman sudah
tak terpakai dan tak ada penjual lain. Apakah aku tertidur disini bertahun
tahun? Aku beranjak dari kursi menuju motorku di basement. Kucari tak ada
satupun motor. Aku berjalan keluar. Hebatnya banyak sekali gedung gedung
pencakar langit disekitar sini. Sudah berapa tahun aku tidur? Lalu datang
seorang dengan motor yang sepertinya aku kenal. Hey itu motorku. Dia berhenti
didepanku. Tampangnya sudah tua, lusuh, dan sepertinya dia seorang gelandangan.
“ Maaf mas, ini motornya saya kembalikan. Saya pinjam waktu mas tidur. Lalu
saya dipecat oleh boss saya karena dituduh mencuri motor mas nya. Mas sudah
tertidur sekitar 15 tahun. Saya bolak balik membangunkan mas tetapi mas tidak
bangun bangun juga. Sampai mall ini ditutup dan akan dirubuhkan tetapi tidak
jadi karena mas ada didalam.” Aku heran dengan pernyataan bapak ini. Apakah benar
aku sudah tertidur selama 15 tahun? Lalu bagaimana keaadanmu?
0 comments:
Post a Comment