Sunday, November 27, 2016 | By: bahtiar bimo w

Antara Kenyataan dan Mimpi Indah

Antara Kenyataan dan Mimpi indah.

Didepan aku ada sepasang kekasih yang sedang bercanda girang. Mereka sama sekali tak memperhatikanku yang sedang termenung memperhatikan mereka. Aku berusaha memalingkan wajahku ketika lelakinya menengok ke arahku. Pikiran ku langsung kacau mengingatmu. Rasanya aku ingin berhenti menulis surat ini. Tapi aku sudah berjanji untuk menulis surat untukmu. Kamu tau kan apa yang selalu aku beli jika aku berkunjung ke comebuy. Ya itu. Minumanku sebentar lagi habis, padahal aku tak meminumnya. Lalu mataku tiba tiba menumpahkan air mata. Semua itu tak terbendung olehku. Apakah minumanku pindah ke mataku dan lalu tumpah di meja cokelat dari kayu? Aku tak tau, yang pasti air mataku jatuh.
Sepasang kekasih tadi sudah pergi dari hadapanku. Kini tinggal aku, laptopku, minumanku yang hanya tinggal plastiknya saja, dan beberapa air mata. Aku kembali memikirkanmu. Memikirkan hubungan ini. Rasanya tak ada yang harus diperbaiki. Disana kamu tak butuh aku. Sudah ada banyak teman mu disana. Disini aku butuh seseorang. Aku butuh seseorang sepertimu. Aku butuh kamu.
Entah apa lagi yang aku pikirkan, aku ingin pergi dari mu. Aku tak ingin kembali padamu. Aku ingin semua ini sampai disini. Aku tak ingin melihat wajahmu lagi. Aku tak ingin memikirkanmu lagi. Aku tak ingin berbicara dan bahkan mendengar suaramu lagi. Aku tak ingin apapun yang berhubungan denganmu. Aku takut. Semua ini ku kira hanya mimpi. Tetapi ternyata ini kenyataan. Kenyataannya? Kamu tak membutuhkan ku lagi. Kenyataannya bahwa disini aku masih membutuhkanmu. Kenyataannya? aku tak berarti apa apa untukmu. Kenyataannya lagi perasaan mu sudah tak sama untukku. Aku benci seperti ini. Lebih baik pergi saja dari pada tersiksa sendiri. Melihatmu tertawa rasanya saja campur aduk antara senang karena aku tau kamu sudah tak sedih lagi. Sedih karena tawamu bukan karna ku lagi.
Saat ini aku berada di atas bukit. Dimana disamping kananku adalah bunga bunga yang baru berkembang menjadi utuh dan warna warni dan disamping kiriku adalah jurang terjal, gelap dan gulita serta seram tanpa cahaya. Kenyataannya adalah satu kakiku sudah berada di atas jurang dan jika aku bergerak sedikit saja, aku jatuh. Berhubung aku panik dan aku tak mungkin pergi ke bukit berbunga. Aku terjun. Sampai dasar jurang itu ada trampolin. Didalam jurang itu ternyata ada goa. Aku masuk kedalam dan terus menyusuri gua itu tanpa cahaya. Berbekal tangan untuk meraba dan kaki untuk berjalan ku temukan sumber cahaya di ujung lorong goa itu. Aku langsung berlari kea rah cahaya itu dan tebak. Ada dunia dengan matahari yang setengah tenggelam atau biasa disebut senja. Warna kemerah merahannya membuat hatiku damai. Pantulan cahaya ke air laut membuat air laut berkilauan dan menyilaukan mataku. Tetapi coba tebak. Air laut itu ternyata bukan air laut. Tetapi berlian yang terkumpul sangat banyak. Siapa gerangan yang menaruh berlian sebanyak ini di sini sehingga air laut menjadi surut dan hanya tersisa berlian. Saat ini tepatnya aku berada di pantai yang entah dimana dan didunia mana. Akankah ini dunia khayalan yang selalu diceritakan oleh seorang ibu kepada anaknya sebelum tidur. Atau memang ini adalah dunia sebenarnya, atau dunia ini hanya dunia yang berada di ujung lorong goa didasar jurang.
Matahari senja ini tak pernah turun sedikitpun. Cahayanya tak pudar sedikitpun. Aku cinta keadaan seperti ini. Seketika aku teringat padamu lagi. aku benci ini. Aku berandai, andai saja aku bisa mengajakmu ke sini pasti kamu akan sangat bahagia, atau bahkan kebalikannya? Kamu akan sangat membencinya. Hidupku yang muram menjadi kemerah merahan karena matahari senja ini. Aku menjadi damai.
Aku gerah, kubuka bajuku dan ku rendam kepalaku di air laut. Oiya tadi lupa ku sebutkan, bahwa air laut ternyata masih tersisa. Kira kira sebesar ukuran bak mandi untuk satu orang. Hebat sekali orang yang menyediakan air disini. Air nya tak berkurang meski aku berendam disana. Airnya ternyata bisa diminum juga. Aku jadi penasaran sebenarnya siapa yang menciptakan dunia sedamai ini.
Di dunia ini aku menikah dengan seekor elang. Awalnya aku tak tau itu sebuah sangkar dari elang betina yang kesepian. Ku tidur disitu dan tiba tiba elang memeluk ku. Aku mulai melihat kearah mata elang tersebut. Matanya penuh dengan masa lalu yang menyedihkan. Hutan tempat ia tinggal terbakar karna ulah manusia. Nasibnya sama sepertiku, ia menjatuhkan diri ke jurang dan menemui goa yang ujungnya cahaya. Tubuhku mulai ditumbuhi bulu bulu. Tangan ku mulai berubah menjadi sayap. Mulutku mulai meruncing dan mataku menjadi lebih tajam. Aku beranak pinak banyak sekali. anak anak ku berbentuk elang dengan otak manusia. Menghadirkan spesies dimana elang dengan kecerdasan dan akal yang sangat berguna. Tanpa ku sadari matahari masih merah dan sama sekali tak jatuh turun lalu tenggelam. Matahari masih ditempat semula dan memberikan kedamaian bagi ku dan keluargaku. Aku sudah menjadi elang seutuhnya. Dengan insting memangsaku yang digabungkan dengan akal pikiran manusia ku untuk memburu buruan. Aku tak pernah kelaparan. Hebatnya lagi, waktu disini mungkin saja tidak berjalan. Tak terasa sudah bertahun tahun ku tinggal disini. Aku tak peduli pada dunia manusia. Manusia itu kejam. Mereka selalu meninggalkan semua yang tidak dibutuhkannya. Termasuk aku. Aku teringat padamu. Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu sudah menjadi dokter yang kamu impikan itu? Ah untuk apa ku pikirkan ini, tak penting bagiku dan kamu pun tak akan peduli. Lagipula aku tak tau jalan keluar dari sini.

Aku terbang mengelilingi dunia ini. Namun tiba tiba sayapku patah, entah apa yang menyebabkannya lalu aku terjatuh. Aku terbangun diatas meja cokelat dengan laptop didepanku. Gelap, tak ada orang sedikitpun. Tempat ku beli minuman sudah tak terpakai dan tak ada penjual lain. Apakah aku tertidur disini bertahun tahun? Aku beranjak dari kursi menuju motorku di basement. Kucari tak ada satupun motor. Aku berjalan keluar. Hebatnya banyak sekali gedung gedung pencakar langit disekitar sini. Sudah berapa tahun aku tidur? Lalu datang seorang dengan motor yang sepertinya aku kenal. Hey itu motorku. Dia berhenti didepanku. Tampangnya sudah tua, lusuh, dan sepertinya dia seorang gelandangan. “ Maaf mas, ini motornya saya kembalikan. Saya pinjam waktu mas tidur. Lalu saya dipecat oleh boss saya karena dituduh mencuri motor mas nya. Mas sudah tertidur sekitar 15 tahun. Saya bolak balik membangunkan mas tetapi mas tidak bangun bangun juga. Sampai mall ini ditutup dan akan dirubuhkan tetapi tidak jadi karena mas ada didalam.” Aku heran dengan pernyataan bapak ini. Apakah benar aku sudah tertidur selama 15 tahun? Lalu bagaimana keaadanmu?

0 comments:

Post a Comment