Monday, May 1, 2023 | By: bahtiar bimo w

kehilangan.

 seperti yang telah dunia berikan kepadamu, aku ikut memberi seluruhku hanya untukmu, 


pagi itu, aku terbangun dengan harapan bahwa hari ini akan lebih baik dari sebelumnya, namun ternyata harapan itu hanya harapan yg harus ku pendam, tiada hari tanpa sesak, setiap hari ku jalani dengan sakit dan penuh harap kapan hidup ini akan selesai.

ku temui, mataku basah karena air mata diam diam datang. terpaksa ku tutup pintu dan ku matikan lampu kamar. sembari menahan suara tangis, ku dengarkan lagu yang malah membuatku makin tersedu sedu. apa yang salah dengan diriku hingga seperti ini?

hari itu, kuputuskan untuk pergi keluar dari kamarku. sekiranya pergi dari kamar yang menyesakkan itu akan membuat hatiku lebih lega dan tenang. ku sambangi tempat kopi favoritku, lalu memesan kopi yang biasa aku pesan. di sudut tempat kopi, aku duduk termenung. membakar sebatang rokok sembari menunggu kopi yang ku pesan datang. 

diriku yang sedang resah, gelisah, sungguh pantas mendapatkan kesendirian ini. karena kepalaku adalah tempat paling berisik, maka ku harap asap rokok yang ku hisap, dapat ku hembuskan bersama segala keresahanku.

rasanya makin dewasa kita dituntut untuk menjadi kuat dalam beberapa hal, atau mungkin dalam setiap hal. entahlah rasanya dunia yang ku harap selalu menyenangkan menjadi hilang dan tidak pernah menyenangkan sama sekali

Tuesday, February 18, 2020 | By: bahtiar bimo w

untukmu yang jauh disana.

untukmu,

ada beberapa hal didunia ini yang tidak pernah bisa aku ungkapkan lewat kata kata atau lewat pembicaraan kita. dan mungkin beberapa dari itu akan menyebabkan hatimu lebih terluka lagi. aku yang sudah cukup banyak melukaimu akan sangat merasa malu jika harus mengatakan hal hal tersebut kepadamu, hal hal yang saat itu sedang ku rasakan. aku tau memang egois rasanya jika aku tidak memberitahumu apa yang aku rasakan. tapi sayang, sungguh aku mencintaimu dengan segenap hidupku. mungkin ini tulisan terakhir dariku, atau mungkin masih ada tulisan tulisan lain yang menyusul. semua tergantung kepalaku. tergantung kita. 

aku menulis ini sambil mendengarkan lagu Sal - di timur, mungkin kau harus segera mendengarnya karena hari ini baru saja album nya rilis. aku menulis ini tepat dikelas. ketika instruktur belum datang, yang lain sedang tidur karena memang disini sedang hujan deras. mungkin sama seperti matamu, atau mataku. aku tau keputusan ini sangat berat untuk dilakukan. tapi aku punya alasanku sendiri untuk melakukan ini semua. aku sudah memikirkan semuanya, meskipun pada kenyataannya tidak ada diantara kita berdua yang ingin hubungan ini selesai begitu saja. tidak ada.

aku tau ini jahat, egois dan tidak berperasaan. tapi sayang, sungguh perasaanku benar adanya. aku mencintaimu, namun bodohnya sembari mencintaimu aku juga melukaimu. mungkin dibanding cinta yang ku berikan, luka yang kau terima lebih banyak. ya, aku memang bodoh. mengulangi kesalahanku lagi. takluk, tunduk lagi pada jarak. aku selalu percaya bahwa omongan adalah doa. ternyata semua itu jg omong kosong. aku tetap kalah dan aku kehilangan mu sekali lagi.

alasanku melakukan ini semua hanya satu, aku tidak ingin kau menangis tiap malam hanya karna bertengkar denganku karena masalah sepele. aku tidak ingin kau terluka karena bicaraku yang mungkin menurutku sedikit kasar. aku tidak ingin kau terluka karena rindu yang kau kumpulkan tidak pernah tersampaikan padaku. sayang, bagaimanapun juga aku mencintaimu. namun aku tidak bisa mempertahankan ini semua karena dalam hatiku yang paling dalam, aku marah pada diriku sendiri karena selalu menyakitimu. selalu menjanjikan sesuatu namun tidak pernah ku tepati. selalu berkata bohong. cemburu pada temanmu. mungkin ini yang paling baik. seperti ini mungkin lebih baik karena nanti kau pasti, pasti akan mendapatkan seseorang yang setiap bagian nya lebih baik dari diriku. tapi sungguh, aku benar benar mencintaimu. perasaanku tidak pernah bohong. dan kalau mungkin ada kesempatan untuk memperbaiki, mungkin itu nanti. akan kuperbaiki semuanya. maaf. sampai bertemu lagi.
Tuesday, March 13, 2018 | By: bahtiar bimo w

untuk kekasih yang belum mencintaiku.

Aku merasa bahwa, hidup telah menuntutku untuk merasakan kehilangan.

kita yang baru saja dipertemukan semesta dan menjalin tali cinta harus saling membelakangi sekarang. kau memutuskan untuk pergi dan tidak melanjutkan hubungan ini. aku yang memilih untuk melepasmu karena aku tau kau mungkin sudah memikirkan semuanya secara matang. belum genap satu bulan hubungan kita telah selesai.

sungguh perasaanku benar adanya, sayang. aku benar benar mencintaimu, benar benar menyayangimu. kau bilang kau takut tidak bisa menyayangiku seperti aku menyayangimu. kau bilang kau takut untuk membuat aku kecewa, kau bilang kau takut akan menyakitiku lebih dari yang kau lakukan selama ini. kau bilang kau harus meyakini dirimu sendiri untuk memiliki perasaan yang sama denganku. kau bilang, kau tidak bisa mencintaiku karena kau masih memikirkan orang lain dalam pikiranmu.

entahlah, sayang. aku tidak tau siapa orang itu. aku tidak tau dimana ia tinggal atau kapan ia terakhir kali bicara denganmu. aku tidak tau apa apa, aku belum tau apa apa. kau sembunyikan semua itu dariku. kau tidak memperjuangkan apa yang telah kita bangun. kau rusak pondasi hubungan ini dengan alasan alasan yang bahkan sama seperti anak anak sma dan smp diluar sana jika ingin memutuskan kekasihnya.

sayangku, kekasihku. kau akan menyesali setiap perbuatanmu, kau akan merasakan apa itu cinta. kau akan merasakan perasaan sayang yang sungguh sungguh pada seseorang nantinya. agar kau bisa lebih menghargai perasaan seseorang, lebih bisa menghargai usaha seseorang, lebih bisa menghargai perjuangan seseorang. dan tentu agar kau merasakan apa yang aku rasakan. kehilangan yang bertumpuk. aamiin.
Monday, July 24, 2017 | By: bahtiar bimo w

aku, kau, puisi, dan kopi.

Kau adalah apa yang selalu aku tulis sedangkan aku adalah apa yang selalu kau lewatkan. Hebatnya lagi, aku adalah manusia penyedia waktu untuk menemanimu sedangkan kau adalah manusia yang ku harapkan waktunya. Rasanya ingin sekali diskusi berdua denganmu lagi tapi dengan kopi dan puisi puisi kita. Aku mencintai matamu tiap kau bicara, aku mencintai setiap senyumanmu ketika kau menggubris bicaraku yang asal waktu itu. Seandainya kamu masih bersamaku saat ini, aku ingin mengajakmu minum kopi yang kau benci itu. Kau tidak akan pernah bisa membenci kopi jika kau belum tau apa yang ada di dalamnya. Kau tidak pernah setuju pada kopi yang ku minum, katamu tidak baik bagi kesehatan. Tapi buktinya, aku masih sehat sehat saja bersama kopi. Dan tanpamu.

Aku memang mencintamu, tapi aku juga cinta pada kopi. Kau melarangku mencintai kopi dulu, aku mengalah. Dan sekarang? Kopi yang tetap bertahan, kau pergi. Agak aneh memang jika harus bertahan untuk mencintaimu, karena kamu sudah mencintainya sekarang. Aku bertahan dalam deritaku dan bahagiamu dengannya. Raut senyumku ku bangun di atas air mata ku dan canda tawamu. Rasanya seperti, aku memang benar benar membutuhkanmu.

Hari ini benar benar merepotkan. Aku harus mencari kemeja baru untuk keperluan kegiatan pada hari sabtu. Tapi karena ini, aku bisa minum kopi di salah satu kedai kopi didekat mall tempat aku mencari keperluanku. Tempatnya enak, lagunya enak, kopinya? Udah pasti. Sungguh, aku suka dengan kedai kopi yang tidak terlalu terang. Seperti dengan nuansa kayu dan hitam serta lampu neon kuning yang membuat suasana menjadi remang remang. Aku suka kedai seperti itu. Dan aku lebih suka jika kau mau datang denganku ke kedai kopi untuk minum kopi bersama. Tapi itu tidak mungkin.


Aku mencintai puisi dan kopi, serta kopi yang diminum saat aku membaca puisi, atau puisi yang aku tulis bersamaan dengan waktu minum kopi. Seperti puisi yang pernah aku tulis bahwa kopi dan puisi adalah hal yang saling bersinergi, itu nyata. Ada kenikmatan saat kau meneguk tegukan pertama kopimu dengan membaca puisi dan keringanan kata dan keindahan makna saat kau membaca puisi mu sembari meminum kopi.
Tuesday, July 11, 2017 | By: bahtiar bimo w

Mau Sampai Kapan?

Mau Sampai Kapan?


Tangan ku sedang menggenggam satu kenangan
Dan tangan yang satu lagi bersiap menghantam kenangan tersebut
Sedangkan aku sibuk dengan dirimu yang tak juga jadi milikku

Satu diantara dua kopi yang ku pesan sudah hilang
Setelah ku cari, rupa rupa nya aku telah meminumnya

Aku duduk tepat di samping  tiang tembok yang kokoh
Di tembok itu tertulis, jangan lupa jaga kesehatan
Kemudian kamu datang lagi dengan bentuk kenangan
Kemudian aku tampar lagi kamu sampai terjerembab dalam genangan

Kemudian kamu datang terus dan terus
Kemudian aku tampar kamu lagi dan lagi
Mau sampai kapan?

Sampai kopi kedua hilang juga.

Perjalanan Melupakanmu. #1

Malam ini, aku berdua bersama kopi. Malam kemarin pun begitu. Dan mungkin malam malam selanjutnya akan tetap seperti ini. Setelah kepergianmu waktu itu, saya selalu begini. Menyendiri. Entahlah, seperti menyendiri jadi lebih menyenangkan. Bahkan teman teman sampai bingung. Kenapa bimo?

Begitu kentara luka yang kau tinggalkan. Mungkinkah aku terlalu mencintaimu? Memang benar aku sangat mencintaimu. Aku bosan menulis tentangmu, aku ingin menulis tentang orang lain yang aku cintai. Tapi, bayang bayang dirimulah yang sangat benar benar sialan. Menghantui setiap waktu ku. Setiap kegiatanku. Membuat sesak nafasku, penuhi ruang dalam pikiranku. Apa sebenarnya maumu? Kau tinggalkan aku begitu saja demi lelaki itu. Namun kau tetap hadir dalam bentuk bayangan serta kenangan.

Untuk saat ini, aku tidak banyak mau. Aku hanya mau aku bisa melupakanmu seutuhnya. Aku mau kau benar benar pergi dari hidupku. Aku mau kau berhenti datang dan pergi sesukamu dalam pikiranku.kamu memang bear benar sialan.

Entahlah apa factor yang buatku tak bisa lupakanmu, mungkin benar kata bara, kedalaman cinta seseorang bergantung pada bagaimana ia merasakan kesedihan saat ia mencintai seseorang tersebut. Berarti aku benar benar mencintaimu, dan kau benar benar tidak mencintaiku. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kau amat sangat mencintaiku, tapi setelah semua hal yang kau lakukan ini, aku ragu dengan semua perkataanmu. Aku ragu tentang semua yang telah kau ucapkan. Bagaimana mungkin ketika seseorang mencintai seseorang lain ia dapat berpaling  dengan mudahnya ke pelukan orang lain. Apa yang aneh dari mencintai satu orang saja? Apa kau belum cukup cinta yang ku berikan? Padahal aku sudah memberikan seluruh raga dan jiwaku padamu. Sebenarnya belum sih, tapi ya sekitar 70 persen kan sudah besar.

Setelah satu bulan berlalu, aku masih tidak bisa melupakanmu, aku sudah melakukan berbagai cara untuk melupakanmu. Tapi hasilnya nihil. Yang ku dapat hanyalah sakit, sakit, dan sakit lagi. setiap aku menulis puisi, yang ku ingat hanya dirimu, yang ku tulis hanya tentangmu. Apa yang salah dengan puisiku? Apa yang salah dengan pikiranku.

dua bulan berlalu, aku mulai punya hobi baru. Seperti minum kopi misalnya, tiap hari aku sempatkan dalam tiap kesibukanku untuk berkunjung pada satu kedai kopi di sekitaran puri kembangan, Jakarta barat. Sekiranya aku minum 3 gelas sehari dan itu berjalan tiap 2 hari  sekali. aku kenal kopi, teman baruku. Teman untuk segala cerita cerita ku. Ku ceritakan segalanya pada secangkir kopi yang ku minum. Pada tiap gelas yang ku pesan, ku sertakan segenggam cerita dan puisi serta kata kata didalamnya. Termasuk kamu. ku tenggak setiap tetes yang disajikan dalam gelas kopiku. Rasanya pahit sekali. atau mungkin aku merasakan ketidakhadiranmu pada segelas kopi ku?

Bulan ketiga, aku mulai tenang tanpa kehadiran dirimu. Setiap kopi yang ku minum sepertinya membantuku untuk melupakanmu. Setiap kopi yang ku tenggak sepertinya berefek pada keinginanku untuk menghilangkan dirimu dari pikiranku. Entahlah, kopi ini manjur sekali. dan puisi puisiku juga bukan lagi tentangmu, tetapi tentang kopi. Cinta baruku. Aku mulai mencintai kopi, segala kefrustasian hilang setelah aku meminum kopi, rasanya seperti, masa bodo yang penting ada kopi. Setiap segelas kopi ku sertakan puisi. Setiap suka duka pun aku rayakan dengan secangkir kopi. Aku cinta pada kopi. Dan setiap waktuku, aku ingin segera menikmati kopi.
Kopi seakan akan buat diriku hidup kembali setelah beberapa bulan yang lalu kau tinggalkan ku. Kopi adalah jawaban yang selama ini ku cari.

Bulan ke-empat setelah kepergianmu, aku move on total. Begitu menurut perasaanku. Aku mulai belajar tentang kopi, tentang bagaimana kopi ditanam, tentang bagaimana para petani kopi memproses setiap kopi hingga menjadi biji yang utuh hingga sampai pada tangan barista. Aku mulai belajar bagaimana barista menyeduh kopi. Aku memperhatikan setiap barista ketia mereka membuatkan kopi untuk ku, seperti mereka menanamkan cinta pada setiap cangkir kopi. Aku mulai tertarik pada dunia perkopian. Aku rela habiskan uang untuk belajar tentang bagaimana cara membuat kopi, dari pemilihan biji kopi yang baik, pemrosesan buah ceri kopi hingga menjadi bijikopi siap giling, sampai penggilingan biji kopi dengan alat manual dan otomatis. Ini sangat mengasyikan. Aroma yang keluar dari mesin grinder kopi sesaat setelah kopi digiling adalah aroma favoritku. Aku bersumpah, kau tidak akan bisa mengelak bahwa aroma kopi segar yang baru digiling itu sangat nikmat. Siapapun yang mencium wanginya sudah pasti kelabakan.  Akan panjang ceritanya jika aku menceritakan setiap proses yang aku dapat waktu belajar tentang dunia perkopian, jadi kita skip saja dan melanjutkan pada inti cerita.

Bulan ke-lima, aku terus menulis puisi tentang kopi dan mengambil foto setiap kopi yang ku minum. Seperti sebelumnya, ku sematkan sepenggal puisi pada setiap kopi yang ku minum. Aku mulai memposting setiap kopi dan puisi pada instagram pribadiku. Respon dari teman teman pun baik, seperti. “akhirnya move on kamu bim.” Haha seperti itu sekiranya respon mereka. Tapi sebenarnya, setiap kegiatanku hanya omongkosong. Memang setiap kopi yang ku minum mampu meredakan ingatanku tentang mu. Tapi kamu itu candu, aku sampai tidak mengerti mengapa aku belum bisa melupakanmu. Sungguh aku belum benar benar melupakanmu. Setiap cangkir kopi ku masih terselip namamu, setiap makna dari puisiku masih tersimpan kenangan dengan mu. Apa yang harus ku perbuat? Lelah sebenarnya aku ni. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang benar benar belum bisa melupakanmu.

Bulan ke-enam. Masih seperti biasanya, kerjaan ku hanya minum kopi dan menulis puisi. Dan tentu saja memikirkanmu. Bulan ini aku kedatangan wanita baru di hidupku, seperti ia penyelamatku dari pikiran pikiran tentang mu. Kita panggil saja dia si eneng. Entah bagaimana ia datang dalam hidupku tapi yang pasti aku baru merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta lagi ketika ia datang ke hidupku. Setiap waktu ku habiskan bersamanya, tentunya dengan kopi juga. Setiap pagi kami begadang di salah satu restoran cepat saji. Entah itu mengerjakan tugas atau hanya cerita cerita biasa saja. Ya intinya begini, aku mulai jatuh cinta padanya. Tetapi si eneng ini ternyata sedang dekat dengan salah satuteman kampusnya, sebut saja si boy. Dekatnya sudah lama. Tapi mungkin baru baru ini saja ia memberitahuku. Aku sempat kesal ketika ia berkata bahwa ia meninggalkan temannya itu karna ia nyaman denganku. Bagaimana bisa? Nanti pasti kau juga begitu, meninggalkan ku dengan alasan sudah nyaman dengan yang lain. Aku sempat dilema. Karna akupun belum selesai dalam proses transisi ku, jadi aku katakan saja, aku tidak bisa berhubungan yang lebih dari sekedar teman dengan eneng. Dan akhirnya apa? Si eneng menjauh. Dan aku sendiri lagi.

Sepertinya memang sendiri lebih menyenangkan dari apa yang kalian kira, dengan kesendirian, kita jadi lebih bisa menghargai setiap waktu yang kita punya. Tapi kalau aku mungkin tidak yah aha, setiap waktuku hanya ku habiskan untuk minum kopi dan membeli buku buku puisi karangan penyair local yang isi puisinya sedih setengah mati. Yasudah aku kembali pada setiap kegiatan ku yaitu minum kopi dan menulis puisi.

Dan setelah semua sepeninggalan si eneng, aku memikirkanmu lagi. entah apa yang membuat ku begini, rasanya aneh sekali setiap aku tidak melakukan apa apa pasti terbesit pikiran bahwa aku merindukan kehadiranmu. Ini sama sekali tidak keren. Aku tidak ingin ini semua. Aku ingin benar benar melupakanmu.kamu benar benar sialan. tai kamu hehe.  

Cerita selanjutnya akan kuceritakan sekitar 2 hari lagi ya 

Kopi dan Puisi; Dua Hal yang Saling Bersinergi

Kopi dan Puisi; Dua Hal yang Saling Bersinergi


 Aku selalu menyertakan puisi pada secangkir kopi
Mereka satu dan sejati
Rasanya, aku tak tega melihat kopi ku sendiri
Maka kuputuskan saja untuk kulibatkan setunggal atau sepenggal puisi

Mereka adalah dua hal yang saling melengkapi
Puisi dengan segala kata dan makna
Kopi dengan segala rasa dan aroma
Berjuang menghapus satu atau dua buah luka pembuatnya.

Ketenangan tiada tara yang dijanjikan oleh secangkir kopi
Serta kegelisahan yang tertulis pada sebaris puisi
Adalah sebuah tanda bahwa manusia sejatinya tidak pernah memutus asa mereka.

Kopi tanpa puisi hanyalah kopi dengan rasa gelisah dan beraroma resah
Sedangkan, puisi tanpa kopi adalah sekawanan kata yang bahkan tidak pernah benar benar ada di dunia

Aku tidak pernah berkata kalau minum kopi harus dengan sebaris puisi
Atau tulislah puisi dengan ditemani secangkir kopi
Yang mau aku katakan adalah

Mereka; Kopi dan Puisi adalah dua hal yang saling bersinergi.