Aku menatap ke arah langit. Dimana hari ini hari begitu cerah. Matahari menyunggingkan senyum indah untuk semua orang, begitupun aku yang menyunggingkan senyumku pada bayanganmu. Bayangan mu tak pernah hilang dalam pikiranku. Seakan terjerat oleh perekat. Apa kamu yang meletakan perekat di pikiranku? Apa kamu sengaja agar aku tak melupakanmu?
Hari semakin gelap, Seakan mereka memintamu untuk tidak pergi meninggalkanmu. Ya, seperti yang aku inginkan. Tapi apa mungkin kamu tau hujan memintamu untuk tidak pergi meninggalkannya? Apa kamu juga tau aku memintamu untuk tidak pergi meninggalkanku?
Hujan pun turun. Seakan mereka menangis karena kau memutuskan untuk pergi. Aku bisa saja menangis. Hanya saja aku mencoba menyembunyikan tangisanku lewat senyumanku. Senyum yang begitu pahit jika kau tau. Senyum yang hanya bisa ditunjukan oleh mereka orang orang yang kuat.
Hujan turun semakin deras. Seakan mereka menangis semakin keras dan sampai tak ada seorang pun bisa menahannya. Aku bisa saja ikut menangis bersamanya. Menangisimu. Aku menangis bukan tanpa alasan. Selama ini sudah jelas apa yang aku tangisi. Menangisimu.
Hujan ini terasa begitu lama. Semua terasa setelah aku memutuskan untuk menunggumu kembali. Kali ini aku hanya bisa menunggumu. Sendiri, Duduk terdiam didasar hati. Entah apa yang aku pikirkan.
Aku hanya tak ingin ketika nanti kamu datang lagi tak ada yang menyambutmu. Aku hanya ingin memberikan pelukan penuh cinta padamu. Jangan kau tanyakan kenapa. Tentu saja aku merindukanmu.
Kalau kamu datang kembali. Kamu bisa langsung masuk ke dalam hati ini. Aku tak menguncinya jika itu untukmu. Justru aku mengharapkan kedatanganmu kembali dalam hidupku. Hidupku yang dulu sempat berwarna. Disampingmu.
Hujan turun tiap hari. Seakan mereka menangisimu selama kau tak ada. Mungkin apa yang mereka pikirkan sama dengan ku. Ya, mereka mengunggu kedatanganmu. Begitupun aku.
Aku menyayangimu.
0 comments:
Post a Comment