Thursday, July 10, 2014 | By: bahtiar bimo w

MY LAMP IS LOST, Untuk kamu yg kehilangan peneranganmu.

Saat ini, duniaku terasa begitu gelap. Lampu yang biasa aku gunakan untuk menerangi semua ini telah hilang entah kemana. Aku mulai mencarinya kembali, dan aku menemukan lampu lama ku. Aku tak menyerah, sampai suatu hari aku menemukan lampu yg lebih terang, yang lebih hemat, dan yang ini sangat panas. Itu kamu. Perlahan - lahan aku menyambungkan lampu pada saklar yg tak lain adalah hatiku. Setelah semua tersambung, aku memberanikan diri untuk menyalakan lampu tersebut. Aku sudah memikirkan resiko jika ini dinyalakan, mungkin saja listrik tidak kuat? Atau bisa juga putus kabel? Atau bahkan lampu itu pecah dan tak bisa ku raih lagi. Perlahan tapi pasti aku menekan saklar dan ternyata lampu itu amat terang dari apa yg aku bayangkan. Aku tersenyum lebar dan semua kembali hangat.

Hari hari terlewati. Aku mulai merasakan lampu ini mulai begitu hangat dari yg kemarin. Aku mulai merasakan bahwa lampu ini membuatku nyaman. Banyak perasaan perasaan yg menyenangkan semenjak aku menggunakan lampu ini. Lampu ini, aku mencintainya. Rasanya aku tau, dibawah sini aku nyaman, aku hangat.

Setelah beberapa minggu, Lampu ini sering berkedip. Meninggalkanku dalam gelap dan kemudian datang membawa kehangatan itu lagi. Aku sempat berfikir, apa aku harus menggantinya lagi dengan yang baru? Dengan cepat aku menjawab tidak! Aku tidak akan menggantikannya dengan apapun. Meskipun ada yg menukarnya dengan mobil semahal apapun. Itu karna aku mencintainya. Kejadian ini terjadi terus menerus. Lampu ini pernah meninggalkan ku seharian. Begitu lama hingga aku kedinginan. Lalu kembali lagi menghangatkan ku.

Setelah satu bulan aku berlindung dibawah lampu ini, Tiba tiba saja lampu ini hilang. Hilang entah kemana dan aku mencoba mencarinya. Tetapi jika tak ada lampu ini keadaan begitu gelap dan aku pun tak sanggup untuk mencari. Aku menunggu dia kembali. Tapi seperti yang sudah aku duga, dia takkan bisa kembali lagi. Hidupku kembali gelap, kembali dingin tanpa sedikitpun kehangatan. Aku mulai berfikir yang tidak tidak. Aku kembali berteman dengan barang barang haram itu. Aku mulai kehilangan semangatku. Aku bukan aku. Atau mungkin inilah aku. Aku membutuhkanmu, aku tak bisa menjalani ini semua tanpa kehangatanmu.

Aku menulis ini dalam gelapnya kamarku dan dinginnya malam. Ditemani sebuah harapan yg masih amat lekat di saklar yg aku maksut sebagai hati ku dan kabel yg masih berantakan karna telah putus dengan lampunya.

Untukmu, Lampuku.

0 comments:

Post a Comment