Hari hari terlewati. Aku mulai merasakan lampu ini mulai begitu hangat dari yg kemarin. Aku mulai merasakan bahwa lampu ini membuatku nyaman. Banyak perasaan perasaan yg menyenangkan semenjak aku menggunakan lampu ini. Lampu ini, aku mencintainya. Rasanya aku tau, dibawah sini aku nyaman, aku hangat.
Setelah beberapa minggu, Lampu ini sering berkedip. Meninggalkanku dalam gelap dan kemudian datang membawa kehangatan itu lagi. Aku sempat berfikir, apa aku harus menggantinya lagi dengan yang baru? Dengan cepat aku menjawab tidak! Aku tidak akan menggantikannya dengan apapun. Meskipun ada yg menukarnya dengan mobil semahal apapun. Itu karna aku mencintainya. Kejadian ini terjadi terus menerus. Lampu ini pernah meninggalkan ku seharian. Begitu lama hingga aku kedinginan. Lalu kembali lagi menghangatkan ku.
Setelah satu bulan aku berlindung dibawah lampu ini, Tiba tiba saja lampu ini hilang. Hilang entah kemana dan aku mencoba mencarinya. Tetapi jika tak ada lampu ini keadaan begitu gelap dan aku pun tak sanggup untuk mencari. Aku menunggu dia kembali. Tapi seperti yang sudah aku duga, dia takkan bisa kembali lagi. Hidupku kembali gelap, kembali dingin tanpa sedikitpun kehangatan. Aku mulai berfikir yang tidak tidak. Aku kembali berteman dengan barang barang haram itu. Aku mulai kehilangan semangatku. Aku bukan aku. Atau mungkin inilah aku. Aku membutuhkanmu, aku tak bisa menjalani ini semua tanpa kehangatanmu.
Aku menulis ini dalam gelapnya kamarku dan dinginnya malam. Ditemani sebuah harapan yg masih amat lekat di saklar yg aku maksut sebagai hati ku dan kabel yg masih berantakan karna telah putus dengan lampunya.
Untukmu, Lampuku.
0 comments:
Post a Comment