Friday, February 20, 2015 | By: bahtiar bimo w

Dengan kopi saya menghilangkan rindu.

15:07
Saya akan sedikit menceritakan rahasia saya.

Dulu saya pernah punya yang namanya kebahagian. Biasanya orang orang berfikir tentang kebahagiaan itu hanya sebatas cinta atau uang mungkin. Tapi mungkin bagi saya, kebahagiaan itu adalah waktu.

Saya sedang duduk didepan pemeran utama kisah saya. Saya memandangnya dengan penuh hati hati, karena saya takut kopi saya tumpah jika saya pandang dia dengan lekat. Dia pikir bisa hipnotis saya? Iya bisa. Saya pernah punya kisah yang nyaris sempurna dengannya. Tapi semua terasa asing ketika masalah kian berdatangan. Saya mencoba meredakan dengan menyruput segelas kopi dalam beberapa tegukan. Tapi itu tak berpengaruh. Semakin kesini hubungan saya semakin rumit, dan akhirnya saya menyerah dan meninggalkannya dengan sebatang rokok ditangan.

Setelah itu semua, saya mulai jadi anak nakal. Rasanya seperti saya mau mati saja. Mati karena penyesalan atau mati karena mengharapankan dia kembali. Rasanya juga seperti saya ingin menghisap beratus ratus batang rokok, menjadi jagoan dengan buat ribut sana sini, menjadi pecandu minuman kopi. Nggak keren sih kalau saya mabok kopi. Tapi ya lumayan lah kalau untuk penggalau seperti saya.

Saya punya kebiasaan meminum kopi pada sabtu pagi sekitar pukul 8. Ketika semua anak remaja seperti saya sedang tidur pagi itu, saya malah berindu ria. iya saya minum kopi kalau saya rindu dia. Dia itu agak mirip dengan kopi atau mungkin memang mirip. Yang pertama dari kehangatan. Tentu kalian tau bagaimana rasa hangat dari kopi bisa menusuk paru paru anda. Ketika saya menyentuhkan bibir saya pada cangkir ,rasanya seperti bibirnya yang halus sedang melumat habis bibir saya. Nikmat. Ketika bibir saya meng-otomatiskan diri dengan menyeruput kopi ini perlahan, rasanya seperti saya memeluk tubuhnya yg mungil tanpa lemak. Mungkin menjadikan dia agak dingin karena tidak ada pembakaran dalam tubuhnya hah. Lalu ketika kopi ini masuk ke kerongkongan saya, Kenikmatan yg tak terbatas pun datang, kalau dibayangkan, sama nikmatnya ketika saya sedang menikmati ranjang berdua dengan nya dengan desahan desahan halus dari mulutnya yg buat saya ingin melumat bibirnya untuk kedua kalinya. Setelah satu cangkir saya habiskan, saya merasakan kepuasan tersendiri. Kepuasan yg jarang saya dapatkan. Mungkin kepuasan ditambah dengan kebahagiaan karena saya sudah bertemu dengannya lewat secangkir kopi ini.

Selama ini saya sering menulis paragtaf dengan tema secangkir kopi. Saya sering membuat puisi dengan tema sama. Saya juga sering membeli kopi murahan di warung jika saya rindu dengannya. Jangan salah sangka dulu, semurah murahnya kopi diwarung, kalau dinikmati di suasana sabtu pagi maka rasanya akan sama dengan bercinta dengannya. Walau saya tidak tau apa itu bercinta, tapi saya sering menontonnya di film film yg ada di hp teman saya. Nikmat hah. Oke lupakan soal bercinta, intinya jika saya sedang ingin. Saya minum.

Rasa nya saya harus meninggalkan kopi waktu itu. Karena mau tidak mau saya harus pergi dari nya. Saya harus menemukan hal baru yg membuat saya pergi dari kopi. Dan akhirnya saya mencoba teh hangat. Teh hangat yg rasanya begitu hangat, bahkan hangatnya melegakan paru paru saya. Saya gak habis pikir ada minuman yg bisa melegakan selain kopi. Yang bisa menghangatkan selain kopi. Tapi teh hangat tidak membiarkan saya bercinta. Saya tidak merasakan kepuasan seperti saat saya meminum kopi. Saya tak bisa merasakan bibir saya dilumat. kelebihannya hanya dia lebih hangat.

Saya membiasakan diri dengan teh hangat. Saya mulai meminum teh hangat setiap sabtu pagi. Tapi rasanya gak sama. Bener bener gak sama. Mungkin memang saya harus kembali lagi bersama kopi.

Waktu bersama kopi ini merupakan kebahagiaan (re: waktu bersamanya). Sepertinya saya akan jatuh cinta lagi dengan kopi. karena sedari tadi saya menulis ini sambil mengobrol dengan kopi. Saya cinta kopi, Saya mau merindukannya. Saya mau mencintainya lagi, Lewat kopi hangat disetiap sabtu pagi.

Salam rindu,

0 comments:

Post a Comment