Malam ini,
aku berdua bersama kopi. Malam kemarin pun begitu. Dan mungkin malam malam
selanjutnya akan tetap seperti ini. Setelah kepergianmu waktu itu, saya selalu
begini. Menyendiri. Entahlah, seperti menyendiri jadi lebih menyenangkan. Bahkan
teman teman sampai bingung. Kenapa bimo?
Begitu kentara
luka yang kau tinggalkan. Mungkinkah aku terlalu mencintaimu? Memang benar aku
sangat mencintaimu. Aku bosan menulis tentangmu, aku ingin menulis tentang
orang lain yang aku cintai. Tapi, bayang bayang dirimulah yang sangat benar
benar sialan. Menghantui setiap waktu ku. Setiap kegiatanku. Membuat sesak
nafasku, penuhi ruang dalam pikiranku. Apa sebenarnya maumu? Kau tinggalkan aku
begitu saja demi lelaki itu. Namun kau tetap hadir dalam bentuk bayangan serta
kenangan.
Untuk saat
ini, aku tidak banyak mau. Aku hanya mau aku bisa melupakanmu seutuhnya. Aku
mau kau benar benar pergi dari hidupku. Aku mau kau berhenti datang dan pergi
sesukamu dalam pikiranku.kamu memang bear benar sialan.
Entahlah apa
factor yang buatku tak bisa lupakanmu, mungkin benar kata bara, kedalaman cinta
seseorang bergantung pada bagaimana ia merasakan kesedihan saat ia mencintai
seseorang tersebut. Berarti aku benar benar mencintaimu, dan kau benar benar
tidak mencintaiku. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kau amat sangat
mencintaiku, tapi setelah semua hal yang kau lakukan ini, aku ragu dengan semua
perkataanmu. Aku ragu tentang semua yang telah kau ucapkan. Bagaimana mungkin
ketika seseorang mencintai seseorang lain ia dapat berpaling dengan mudahnya ke pelukan orang lain. Apa yang
aneh dari mencintai satu orang saja? Apa kau belum cukup cinta yang ku berikan?
Padahal aku sudah memberikan seluruh raga dan jiwaku padamu. Sebenarnya belum
sih, tapi ya sekitar 70 persen kan sudah besar.
Setelah satu bulan berlalu, aku masih tidak bisa melupakanmu, aku sudah melakukan berbagai
cara untuk melupakanmu. Tapi hasilnya nihil. Yang ku dapat hanyalah sakit,
sakit, dan sakit lagi. setiap aku menulis puisi, yang ku ingat hanya dirimu,
yang ku tulis hanya tentangmu. Apa yang salah dengan puisiku? Apa yang salah
dengan pikiranku.
dua bulan
berlalu, aku mulai punya hobi baru. Seperti minum kopi misalnya, tiap hari aku
sempatkan dalam tiap kesibukanku untuk berkunjung pada satu kedai kopi di
sekitaran puri kembangan, Jakarta barat. Sekiranya aku minum 3 gelas sehari dan
itu berjalan tiap 2 hari sekali. aku
kenal kopi, teman baruku. Teman untuk segala cerita cerita ku. Ku ceritakan
segalanya pada secangkir kopi yang ku minum. Pada tiap gelas yang ku pesan, ku
sertakan segenggam cerita dan puisi serta kata kata didalamnya. Termasuk kamu.
ku tenggak setiap tetes yang disajikan dalam gelas kopiku. Rasanya pahit
sekali. atau mungkin aku merasakan ketidakhadiranmu pada segelas kopi ku?
Bulan ketiga,
aku mulai tenang tanpa kehadiran dirimu. Setiap kopi yang ku minum sepertinya
membantuku untuk melupakanmu. Setiap kopi yang ku tenggak sepertinya berefek
pada keinginanku untuk menghilangkan dirimu dari pikiranku. Entahlah, kopi ini
manjur sekali. dan puisi puisiku juga bukan lagi tentangmu, tetapi tentang
kopi. Cinta baruku. Aku mulai mencintai kopi, segala kefrustasian hilang
setelah aku meminum kopi, rasanya seperti, masa bodo yang penting ada kopi. Setiap
segelas kopi ku sertakan puisi. Setiap suka duka pun aku rayakan dengan
secangkir kopi. Aku cinta pada kopi. Dan setiap waktuku, aku ingin segera
menikmati kopi.
Kopi seakan
akan buat diriku hidup kembali setelah beberapa bulan yang lalu kau tinggalkan
ku. Kopi adalah jawaban yang selama ini ku cari.
Bulan ke-empat setelah kepergianmu, aku move on total. Begitu menurut perasaanku. Aku mulai
belajar tentang kopi, tentang bagaimana kopi ditanam, tentang bagaimana para
petani kopi memproses setiap kopi hingga menjadi biji yang utuh hingga sampai
pada tangan barista. Aku mulai belajar bagaimana barista menyeduh kopi. Aku memperhatikan
setiap barista ketia mereka membuatkan kopi untuk ku, seperti mereka menanamkan
cinta pada setiap cangkir kopi. Aku mulai tertarik pada dunia perkopian. Aku rela
habiskan uang untuk belajar tentang bagaimana cara membuat kopi, dari pemilihan
biji kopi yang baik, pemrosesan buah ceri kopi hingga menjadi bijikopi siap
giling, sampai penggilingan biji kopi dengan alat manual dan otomatis. Ini sangat
mengasyikan. Aroma yang keluar dari mesin grinder kopi sesaat setelah kopi
digiling adalah aroma favoritku. Aku bersumpah, kau tidak akan bisa mengelak
bahwa aroma kopi segar yang baru digiling itu sangat nikmat. Siapapun yang
mencium wanginya sudah pasti kelabakan. Akan
panjang ceritanya jika aku menceritakan setiap proses yang aku dapat waktu
belajar tentang dunia perkopian, jadi kita skip saja dan melanjutkan pada inti
cerita.
Bulan ke-lima,
aku terus menulis puisi tentang kopi dan mengambil foto setiap kopi yang ku
minum. Seperti sebelumnya, ku sematkan sepenggal puisi pada setiap kopi yang ku
minum. Aku mulai memposting setiap kopi dan puisi pada instagram pribadiku. Respon
dari teman teman pun baik, seperti. “akhirnya move on kamu bim.” Haha seperti
itu sekiranya respon mereka. Tapi sebenarnya, setiap kegiatanku hanya
omongkosong. Memang setiap kopi yang ku minum mampu meredakan ingatanku tentang
mu. Tapi kamu itu candu, aku sampai tidak mengerti mengapa aku belum bisa
melupakanmu. Sungguh aku belum benar benar melupakanmu. Setiap cangkir kopi ku
masih terselip namamu, setiap makna dari puisiku masih tersimpan kenangan
dengan mu. Apa yang harus ku perbuat? Lelah sebenarnya aku ni. Tapi mau
bagaimana lagi, aku memang benar benar belum bisa melupakanmu.
Bulan ke-enam.
Masih seperti biasanya, kerjaan ku hanya minum kopi dan menulis puisi. Dan tentu
saja memikirkanmu. Bulan ini aku kedatangan wanita baru di hidupku, seperti ia
penyelamatku dari pikiran pikiran tentang mu. Kita panggil saja dia si eneng. Entah
bagaimana ia datang dalam hidupku tapi yang pasti aku baru merasakan bagaimana
rasanya jatuh cinta lagi ketika ia datang ke hidupku. Setiap waktu ku habiskan
bersamanya, tentunya dengan kopi juga. Setiap pagi kami begadang di salah satu
restoran cepat saji. Entah itu mengerjakan tugas atau hanya cerita cerita biasa
saja. Ya intinya begini, aku mulai jatuh cinta padanya. Tetapi si eneng ini
ternyata sedang dekat dengan salah satuteman kampusnya, sebut saja si boy. Dekatnya
sudah lama. Tapi mungkin baru baru ini saja ia memberitahuku. Aku sempat kesal
ketika ia berkata bahwa ia meninggalkan temannya itu karna ia nyaman denganku. Bagaimana
bisa? Nanti pasti kau juga begitu, meninggalkan ku dengan alasan sudah nyaman
dengan yang lain. Aku sempat dilema. Karna akupun belum selesai dalam proses
transisi ku, jadi aku katakan saja, aku tidak bisa berhubungan yang lebih dari
sekedar teman dengan eneng. Dan akhirnya apa? Si eneng menjauh. Dan aku sendiri
lagi.
Sepertinya memang
sendiri lebih menyenangkan dari apa yang kalian kira, dengan kesendirian, kita
jadi lebih bisa menghargai setiap waktu yang kita punya. Tapi kalau aku mungkin
tidak yah aha, setiap waktuku hanya ku habiskan untuk minum kopi dan membeli
buku buku puisi karangan penyair local yang isi puisinya sedih setengah mati. Yasudah
aku kembali pada setiap kegiatan ku yaitu minum kopi dan menulis puisi.
Dan setelah
semua sepeninggalan si eneng, aku memikirkanmu lagi. entah apa yang membuat ku
begini, rasanya aneh sekali setiap aku tidak melakukan apa apa pasti terbesit
pikiran bahwa aku merindukan kehadiranmu. Ini sama sekali tidak keren. Aku tidak
ingin ini semua. Aku ingin benar benar melupakanmu.kamu benar benar sialan. tai
kamu hehe.
0 comments:
Post a Comment