Tuesday, July 11, 2017 | By: bahtiar bimo w

Perjalanan Melupakanmu. #1

Malam ini, aku berdua bersama kopi. Malam kemarin pun begitu. Dan mungkin malam malam selanjutnya akan tetap seperti ini. Setelah kepergianmu waktu itu, saya selalu begini. Menyendiri. Entahlah, seperti menyendiri jadi lebih menyenangkan. Bahkan teman teman sampai bingung. Kenapa bimo?

Begitu kentara luka yang kau tinggalkan. Mungkinkah aku terlalu mencintaimu? Memang benar aku sangat mencintaimu. Aku bosan menulis tentangmu, aku ingin menulis tentang orang lain yang aku cintai. Tapi, bayang bayang dirimulah yang sangat benar benar sialan. Menghantui setiap waktu ku. Setiap kegiatanku. Membuat sesak nafasku, penuhi ruang dalam pikiranku. Apa sebenarnya maumu? Kau tinggalkan aku begitu saja demi lelaki itu. Namun kau tetap hadir dalam bentuk bayangan serta kenangan.

Untuk saat ini, aku tidak banyak mau. Aku hanya mau aku bisa melupakanmu seutuhnya. Aku mau kau benar benar pergi dari hidupku. Aku mau kau berhenti datang dan pergi sesukamu dalam pikiranku.kamu memang bear benar sialan.

Entahlah apa factor yang buatku tak bisa lupakanmu, mungkin benar kata bara, kedalaman cinta seseorang bergantung pada bagaimana ia merasakan kesedihan saat ia mencintai seseorang tersebut. Berarti aku benar benar mencintaimu, dan kau benar benar tidak mencintaiku. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kau amat sangat mencintaiku, tapi setelah semua hal yang kau lakukan ini, aku ragu dengan semua perkataanmu. Aku ragu tentang semua yang telah kau ucapkan. Bagaimana mungkin ketika seseorang mencintai seseorang lain ia dapat berpaling  dengan mudahnya ke pelukan orang lain. Apa yang aneh dari mencintai satu orang saja? Apa kau belum cukup cinta yang ku berikan? Padahal aku sudah memberikan seluruh raga dan jiwaku padamu. Sebenarnya belum sih, tapi ya sekitar 70 persen kan sudah besar.

Setelah satu bulan berlalu, aku masih tidak bisa melupakanmu, aku sudah melakukan berbagai cara untuk melupakanmu. Tapi hasilnya nihil. Yang ku dapat hanyalah sakit, sakit, dan sakit lagi. setiap aku menulis puisi, yang ku ingat hanya dirimu, yang ku tulis hanya tentangmu. Apa yang salah dengan puisiku? Apa yang salah dengan pikiranku.

dua bulan berlalu, aku mulai punya hobi baru. Seperti minum kopi misalnya, tiap hari aku sempatkan dalam tiap kesibukanku untuk berkunjung pada satu kedai kopi di sekitaran puri kembangan, Jakarta barat. Sekiranya aku minum 3 gelas sehari dan itu berjalan tiap 2 hari  sekali. aku kenal kopi, teman baruku. Teman untuk segala cerita cerita ku. Ku ceritakan segalanya pada secangkir kopi yang ku minum. Pada tiap gelas yang ku pesan, ku sertakan segenggam cerita dan puisi serta kata kata didalamnya. Termasuk kamu. ku tenggak setiap tetes yang disajikan dalam gelas kopiku. Rasanya pahit sekali. atau mungkin aku merasakan ketidakhadiranmu pada segelas kopi ku?

Bulan ketiga, aku mulai tenang tanpa kehadiran dirimu. Setiap kopi yang ku minum sepertinya membantuku untuk melupakanmu. Setiap kopi yang ku tenggak sepertinya berefek pada keinginanku untuk menghilangkan dirimu dari pikiranku. Entahlah, kopi ini manjur sekali. dan puisi puisiku juga bukan lagi tentangmu, tetapi tentang kopi. Cinta baruku. Aku mulai mencintai kopi, segala kefrustasian hilang setelah aku meminum kopi, rasanya seperti, masa bodo yang penting ada kopi. Setiap segelas kopi ku sertakan puisi. Setiap suka duka pun aku rayakan dengan secangkir kopi. Aku cinta pada kopi. Dan setiap waktuku, aku ingin segera menikmati kopi.
Kopi seakan akan buat diriku hidup kembali setelah beberapa bulan yang lalu kau tinggalkan ku. Kopi adalah jawaban yang selama ini ku cari.

Bulan ke-empat setelah kepergianmu, aku move on total. Begitu menurut perasaanku. Aku mulai belajar tentang kopi, tentang bagaimana kopi ditanam, tentang bagaimana para petani kopi memproses setiap kopi hingga menjadi biji yang utuh hingga sampai pada tangan barista. Aku mulai belajar bagaimana barista menyeduh kopi. Aku memperhatikan setiap barista ketia mereka membuatkan kopi untuk ku, seperti mereka menanamkan cinta pada setiap cangkir kopi. Aku mulai tertarik pada dunia perkopian. Aku rela habiskan uang untuk belajar tentang bagaimana cara membuat kopi, dari pemilihan biji kopi yang baik, pemrosesan buah ceri kopi hingga menjadi bijikopi siap giling, sampai penggilingan biji kopi dengan alat manual dan otomatis. Ini sangat mengasyikan. Aroma yang keluar dari mesin grinder kopi sesaat setelah kopi digiling adalah aroma favoritku. Aku bersumpah, kau tidak akan bisa mengelak bahwa aroma kopi segar yang baru digiling itu sangat nikmat. Siapapun yang mencium wanginya sudah pasti kelabakan.  Akan panjang ceritanya jika aku menceritakan setiap proses yang aku dapat waktu belajar tentang dunia perkopian, jadi kita skip saja dan melanjutkan pada inti cerita.

Bulan ke-lima, aku terus menulis puisi tentang kopi dan mengambil foto setiap kopi yang ku minum. Seperti sebelumnya, ku sematkan sepenggal puisi pada setiap kopi yang ku minum. Aku mulai memposting setiap kopi dan puisi pada instagram pribadiku. Respon dari teman teman pun baik, seperti. “akhirnya move on kamu bim.” Haha seperti itu sekiranya respon mereka. Tapi sebenarnya, setiap kegiatanku hanya omongkosong. Memang setiap kopi yang ku minum mampu meredakan ingatanku tentang mu. Tapi kamu itu candu, aku sampai tidak mengerti mengapa aku belum bisa melupakanmu. Sungguh aku belum benar benar melupakanmu. Setiap cangkir kopi ku masih terselip namamu, setiap makna dari puisiku masih tersimpan kenangan dengan mu. Apa yang harus ku perbuat? Lelah sebenarnya aku ni. Tapi mau bagaimana lagi, aku memang benar benar belum bisa melupakanmu.

Bulan ke-enam. Masih seperti biasanya, kerjaan ku hanya minum kopi dan menulis puisi. Dan tentu saja memikirkanmu. Bulan ini aku kedatangan wanita baru di hidupku, seperti ia penyelamatku dari pikiran pikiran tentang mu. Kita panggil saja dia si eneng. Entah bagaimana ia datang dalam hidupku tapi yang pasti aku baru merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta lagi ketika ia datang ke hidupku. Setiap waktu ku habiskan bersamanya, tentunya dengan kopi juga. Setiap pagi kami begadang di salah satu restoran cepat saji. Entah itu mengerjakan tugas atau hanya cerita cerita biasa saja. Ya intinya begini, aku mulai jatuh cinta padanya. Tetapi si eneng ini ternyata sedang dekat dengan salah satuteman kampusnya, sebut saja si boy. Dekatnya sudah lama. Tapi mungkin baru baru ini saja ia memberitahuku. Aku sempat kesal ketika ia berkata bahwa ia meninggalkan temannya itu karna ia nyaman denganku. Bagaimana bisa? Nanti pasti kau juga begitu, meninggalkan ku dengan alasan sudah nyaman dengan yang lain. Aku sempat dilema. Karna akupun belum selesai dalam proses transisi ku, jadi aku katakan saja, aku tidak bisa berhubungan yang lebih dari sekedar teman dengan eneng. Dan akhirnya apa? Si eneng menjauh. Dan aku sendiri lagi.

Sepertinya memang sendiri lebih menyenangkan dari apa yang kalian kira, dengan kesendirian, kita jadi lebih bisa menghargai setiap waktu yang kita punya. Tapi kalau aku mungkin tidak yah aha, setiap waktuku hanya ku habiskan untuk minum kopi dan membeli buku buku puisi karangan penyair local yang isi puisinya sedih setengah mati. Yasudah aku kembali pada setiap kegiatan ku yaitu minum kopi dan menulis puisi.

Dan setelah semua sepeninggalan si eneng, aku memikirkanmu lagi. entah apa yang membuat ku begini, rasanya aneh sekali setiap aku tidak melakukan apa apa pasti terbesit pikiran bahwa aku merindukan kehadiranmu. Ini sama sekali tidak keren. Aku tidak ingin ini semua. Aku ingin benar benar melupakanmu.kamu benar benar sialan. tai kamu hehe.  

Cerita selanjutnya akan kuceritakan sekitar 2 hari lagi ya 

0 comments:

Post a Comment