Monday, July 24, 2017 | By: bahtiar bimo w

aku, kau, puisi, dan kopi.

Kau adalah apa yang selalu aku tulis sedangkan aku adalah apa yang selalu kau lewatkan. Hebatnya lagi, aku adalah manusia penyedia waktu untuk menemanimu sedangkan kau adalah manusia yang ku harapkan waktunya. Rasanya ingin sekali diskusi berdua denganmu lagi tapi dengan kopi dan puisi puisi kita. Aku mencintai matamu tiap kau bicara, aku mencintai setiap senyumanmu ketika kau menggubris bicaraku yang asal waktu itu. Seandainya kamu masih bersamaku saat ini, aku ingin mengajakmu minum kopi yang kau benci itu. Kau tidak akan pernah bisa membenci kopi jika kau belum tau apa yang ada di dalamnya. Kau tidak pernah setuju pada kopi yang ku minum, katamu tidak baik bagi kesehatan. Tapi buktinya, aku masih sehat sehat saja bersama kopi. Dan tanpamu.

Aku memang mencintamu, tapi aku juga cinta pada kopi. Kau melarangku mencintai kopi dulu, aku mengalah. Dan sekarang? Kopi yang tetap bertahan, kau pergi. Agak aneh memang jika harus bertahan untuk mencintaimu, karena kamu sudah mencintainya sekarang. Aku bertahan dalam deritaku dan bahagiamu dengannya. Raut senyumku ku bangun di atas air mata ku dan canda tawamu. Rasanya seperti, aku memang benar benar membutuhkanmu.

Hari ini benar benar merepotkan. Aku harus mencari kemeja baru untuk keperluan kegiatan pada hari sabtu. Tapi karena ini, aku bisa minum kopi di salah satu kedai kopi didekat mall tempat aku mencari keperluanku. Tempatnya enak, lagunya enak, kopinya? Udah pasti. Sungguh, aku suka dengan kedai kopi yang tidak terlalu terang. Seperti dengan nuansa kayu dan hitam serta lampu neon kuning yang membuat suasana menjadi remang remang. Aku suka kedai seperti itu. Dan aku lebih suka jika kau mau datang denganku ke kedai kopi untuk minum kopi bersama. Tapi itu tidak mungkin.


Aku mencintai puisi dan kopi, serta kopi yang diminum saat aku membaca puisi, atau puisi yang aku tulis bersamaan dengan waktu minum kopi. Seperti puisi yang pernah aku tulis bahwa kopi dan puisi adalah hal yang saling bersinergi, itu nyata. Ada kenikmatan saat kau meneguk tegukan pertama kopimu dengan membaca puisi dan keringanan kata dan keindahan makna saat kau membaca puisi mu sembari meminum kopi.

0 comments:

Post a Comment